Seperti setiap orang kebanyakan yang meranjak dari
kekerdilan pemikiran menuju sebuah kecerahan yang selalu dicari, ya… itu lah
aku ketika awal masuk perguruan tinggi. Aktivis kampus yang notabene bias dikatakan
masih karbitan sering membuat doktrin untuk meracuni kejernihan pikiran yang
baru keluar dari sarang yang terkungkung.
Pertengahan semester awal seorang senior sekolahan pun
banyak member masukan dari pengalaman selama mengenyam dunia pengetahuan. Tak
tergoyahkan untuk tetap tidak ikut menyelam ke dalam distorsi pemikiran yang
masih kotor dalam benak hati terdalam.
Awal mula sebuah bendera berkepal tangan sering membisikkan kebenaran
yang memang sudah diakui dalam otak. Tapi, entah kenapa masih saja terus
menolak apa yang terjalani sang bendera. Terlalu pasif dalam berpikir, mungkin
itu yang terpikirkan masa itu.
Tak bisa tersangkal diri pernah masuk dalam perkaderan pintu
masuk bendera berkepal tangan. Hanya halaman saja yang sudah terpijak, tak
sampai ruang tamu. Tak betah diri ini karena sikap, sifat dan perilaku yang
memang tak sesuai diri. Banyak sekali perdebatan diri jika masuk ke dalamnya,
terlalu sempit ruang gerak untuk menemukan sebuah kebenaran dalam diri. Itu
saja.
Segudang konspirasi dunia yang harus terpecahkan bukan hanya
dengan terdiam dan berpasrah diri pada Tuhan. Logika manusia yang mematangkan
sebuah kebohongan dunia harus dibuka lebar untuk membuktikan kebenaran. Bukan
karena tak percaya Tuhan, bila tak ada usaha dan berdiam pada pemikiran kolot
apa semua kebohongan akan terbuka??? Bisa dikatakan tidak mungkin.
Sudah terlalu banyak sekte bawah tanah yang merancang
kehancuran sebuah kaum hanya dari cara berpikir. Bila sebuah pola pikir saja
sudah bisa dilencengkan otomatis setiap aktivitas pun bisa lengser dari jalur
yang seharusnya sudah terpampang nyata, mungkin itu jargon Syahrini.
Bermunculan paham Okultisme yang merusak budaya yang
alih-alih mengatakan kemajuan teknologi. Selebihnya adalah sebuah mission yang
tersembunyi dan tersimpan rapat di dasar tanah pendiri paham.
Di penghujung tahun kedua pada semester ganjil di perguruan
tinggi terbersit sebuah niat yang terealisasi dalam sebuah forum di tubuh
bendera balok dua warna. Semua bermula dari kerancuan dalam memikirkan segala
hal yang ada dan akhirnya memutuskan untuk ikut dalam system bendera balok dua
warna.
Berkali-kali kader bendera dua warna menarik dan meracuni
pikiran, sayangnya tak pernah berhasil. Diri ini masuk karena bawaan kemauan
dan kebutuhan diri untuk membentuk cara berpikir yang telah terdifusi dalam nilai
kehidupan tanpa sekat dan selaput pembatas lagi. Bebas tapi terarah. Keras
bukan berarti begajulan.
Masuk dalam diri balok dua warna adalah sebuah pilihan dari
distorsi pikiran menanggapi pemikiran yang dianggap salah oleh otak yang
terlanjur terlalu aktif. Semua pemikiran dalam bendera balok dua warna
berdifusi sebagai doktrin yang mencerahkan tanpa harus berdiam diri saja.
beraaatttt!!! ^_^
BalasHapus