Minggu, 27 Oktober 2013

Jalan memang Tak [pernah] rata (???)

Dingin malam, sejuk udara pagi, terik matahari dan deras hujan seperti menyatu dalam lingkaran kesatuan yang saling menyamakan dan berbeda pada waktu yang lain...

Salam hangat, senyum manis, tawa deras, tangis menderu sebagian dari lukisan hari yang berjalan pada tempat dan waktu yang berbeda...

Siapa peduli deru kelam terang senja di ujung jalan???
Buat apa peduli???
Itu cuma hal biasa saja...

Setiap orang ingin berjalan di jalan yang lurus dan rata...
Jalan rata pun terlihat rata walau ada cungkilan lubang kerikil yang bertebaran...

Gundala yang berjalan dengan palu gada di tangan pun akan tersendat saat telapak kaki menginjak kerikil, sayang Gundala putra petir bisa terbang dengan kekuatannya sehingga tak perlu berjalan menginjak kerikil...

Memang jalan rata pun tak [pernah] rata, berbelok atau lurus adalah hal yang sama karena kerikil pasti ada...
Berbalik itu sama saja meniti jalan yang sudah runtuh dan mulai pudar dalam penglihatan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar