Minggu, 27 Oktober 2013

Hentak [musik] berdebar {emosi}

Pacuan V-Belt menderu, mengerang dalam putaran penuh. Jarum merah bergeming pada titik nol, roda berputar hamparan jalan terlewati sekedap pasang roda.

Laju kecepatan berhenti depan pagar biru menjunjung tembok satu lantai. Bercengkrama seputar hal yang tak tahu berujung atau tidak. Roda pun berputar kembali setelah jam bergerak hampir putaran penuh.

Secepat musang masuk ke hutan tempat dulu mencari mangsa. Putaran roda membelah kota dalam rintik hujan yang membasahi tanah hitam.

Tak pelak ratusan gedung terlewati hingga berhenti di depan gedung setengah ruko bercorak merah. Bercokol sekelompok keling penguasa daerah, tak sedap tampak mata tingkah keling. Langkah kaki terayun masuk dalam ruang yang mulai terasa dingin, lembaran kertas berganti stempel tak kasat mata. Muka garang siap siaga menatap setiap kaki yang masuk, ruang berasap dengan hentakan degup suara mengguncang jantung. Telinga pun tertutup hanya tubuh yang ikut irama piring hitam.

Ruang dingin mulai memanas seiring terisi rongga ruang oleh kaki yang bergoyang riang. Sadar atau tidak aku pun tak tahu, dari gaya parlente sampai gaya emperan toko bercampur mencari kesenangan sesaat. Hah... Ku coba buang segala penat kepala dan emosi mengikuti irama.

Ya... Aku tahu ini pernah kurasa sebelumnya. Lama sudah tak ku sentuh lantai cahaya pendar berwarna ini. Teriak sekencang yang aku bisa hingga tegang rahang yang ku rasa.

Sekali lagi aku tertawa dalam penat yang pernah aku rasa sebelumnya. Hentak irama [musik] ini membuat debaran emosi menguap tinggi dan menghitam seperti tungku kayu di dapur gedhek.

Hanya ini yang bisa aku rasa dalam penat tak berujung yang belum tahu apa harus ku pegang kaca rongga itu lagi???
Aku rasa tidak, cukup ini saja yang kembali dari balik gundukan kelam.

Jalan memang Tak [pernah] rata (???)

Dingin malam, sejuk udara pagi, terik matahari dan deras hujan seperti menyatu dalam lingkaran kesatuan yang saling menyamakan dan berbeda pada waktu yang lain...

Salam hangat, senyum manis, tawa deras, tangis menderu sebagian dari lukisan hari yang berjalan pada tempat dan waktu yang berbeda...

Siapa peduli deru kelam terang senja di ujung jalan???
Buat apa peduli???
Itu cuma hal biasa saja...

Setiap orang ingin berjalan di jalan yang lurus dan rata...
Jalan rata pun terlihat rata walau ada cungkilan lubang kerikil yang bertebaran...

Gundala yang berjalan dengan palu gada di tangan pun akan tersendat saat telapak kaki menginjak kerikil, sayang Gundala putra petir bisa terbang dengan kekuatannya sehingga tak perlu berjalan menginjak kerikil...

Memang jalan rata pun tak [pernah] rata, berbelok atau lurus adalah hal yang sama karena kerikil pasti ada...
Berbalik itu sama saja meniti jalan yang sudah runtuh dan mulai pudar dalam penglihatan...