Pacuan V-Belt menderu, mengerang dalam putaran penuh. Jarum merah bergeming pada titik nol, roda berputar hamparan jalan terlewati sekedap pasang roda.
Laju kecepatan berhenti depan pagar biru menjunjung tembok satu lantai. Bercengkrama seputar hal yang tak tahu berujung atau tidak. Roda pun berputar kembali setelah jam bergerak hampir putaran penuh.
Secepat musang masuk ke hutan tempat dulu mencari mangsa. Putaran roda membelah kota dalam rintik hujan yang membasahi tanah hitam.
Tak pelak ratusan gedung terlewati hingga berhenti di depan gedung setengah ruko bercorak merah. Bercokol sekelompok keling penguasa daerah, tak sedap tampak mata tingkah keling. Langkah kaki terayun masuk dalam ruang yang mulai terasa dingin, lembaran kertas berganti stempel tak kasat mata. Muka garang siap siaga menatap setiap kaki yang masuk, ruang berasap dengan hentakan degup suara mengguncang jantung. Telinga pun tertutup hanya tubuh yang ikut irama piring hitam.
Ruang dingin mulai memanas seiring terisi rongga ruang oleh kaki yang bergoyang riang. Sadar atau tidak aku pun tak tahu, dari gaya parlente sampai gaya emperan toko bercampur mencari kesenangan sesaat. Hah... Ku coba buang segala penat kepala dan emosi mengikuti irama.
Ya... Aku tahu ini pernah kurasa sebelumnya. Lama sudah tak ku sentuh lantai cahaya pendar berwarna ini. Teriak sekencang yang aku bisa hingga tegang rahang yang ku rasa.
Sekali lagi aku tertawa dalam penat yang pernah aku rasa sebelumnya. Hentak irama [musik] ini membuat debaran emosi menguap tinggi dan menghitam seperti tungku kayu di dapur gedhek.
Hanya ini yang bisa aku rasa dalam penat tak berujung yang belum tahu apa harus ku pegang kaca rongga itu lagi???
Aku rasa tidak, cukup ini saja yang kembali dari balik gundukan kelam.