Bermula saat sebuah kertas dan Koran yang menorehkan
nama-nama anak bangsa yang punya harapan besar pada ilmu pengetahuan yang lebih
tinggi. Tak tersangka ternyata sebuah nama yang menyentakkan pandangan terpampang
disana, lulus pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang masuk 10 besar di tanah
air –setidaknya pada saat itu.
Seperti biasa, malam yang membawa angin sejuk masuk melalui
celah jendela tetapi tidak menggoda mata untuk cepat terlelap hingga roda waktu
terlihat memasuki keheningan tengah malam. Hanya satu yang ada dipikiran,
terlalu sombong tidak mengambil kesempatan tes seleksi masuk waktu itu –beberapa
bulan yang lalu- toh akhirnya lulus disini juga. Ada tabir sesal penuh harap
pada perguruan berselimut warna kuning yang selalu terngiang dalam mimpi, sesal
karena terlalu congkak sikap mengabaikan setiap fase hidup yang sudah berusaha
dibimbing sang arsitek sekolahan.
Ya…ya…ya… memang sombong seonggok daging ini karena hanya
mementingkan kebahagian sesaat yang penuh dengan penyesalan detik ini.
Belum sempat terkirim kabar kelulusan ini pada wanita yang
telah membawa tubuh ini ke dunia. Masih banyak pertimbangan dalam diri untuk
menolak kebijakan yang sudah ada tapi dengan resiko yang mungkin saat itu tak
berani tergenggam karena rasa takut pada kemampuan diri sendiri.
Mentari yang cerah membuat mata silau setelah mengunyah roti
plus kacang hijau beraroma asap yang biasa tertelan ketika jadwalnya.
Hahahaaha hanya tawa untuk mengingat setiap makanan yang
tersedia saat itu –Hotel Rodeo yang penuh ilmu dan bekal hidup- tidak terlalu
kejam istilah itu karena memang seperti terkungkung dalam kotak rutinitas.
Ketika fajar mulai meranjak naik ke langit yang biru, tubuh
ini sudah berdiam di ruangan bermesin pendingin dengan tiga arsitek masa depan
dalam sekolahan. Ya… Ini lah saatnya penentuan antara Kujang dan Tanah Batak.
Doktrin dan dogma terus dilancarkan sang arsitek untuk meracuni keyakinan bocah
lugu dengan berbagai janji yang menenangkan.
Tetapi, sekali lagi hanya tawa yang bisa menggambarkan hal
tersebut. Otak ini teracuni doktrin bunda arsitek yang tak terbantahkan setiap
kalimatnya. Hanya satu yang terpikirkan setelah racun itu meresap dalam patri –melangkah
dari tugu Kujang menuju Tanah Batak- mungkin hanya itu yang ada karena selama
lima tahun mata ini tertutup dari kontaminasi kekejaman dunia luar dan hanya
tanah tiga hektar yang menjadi teritorial hidup di ujung kota Tugu Kujang.
Coretan ini adalah saat dimana kaki telah hampir seribu hari
berpetualang dan menghabiskan waktu yang tersedia di Tanah Batak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar