Rabu, 20 Februari 2013

Hanya Kisah dari Kujang-Tanah Batak

Bermula saat sebuah kertas dan Koran yang menorehkan nama-nama anak bangsa yang punya harapan besar pada ilmu pengetahuan yang lebih tinggi. Tak tersangka ternyata sebuah nama yang menyentakkan pandangan terpampang disana, lulus pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang masuk 10 besar di tanah air –setidaknya pada saat itu.

Seperti biasa, malam yang membawa angin sejuk masuk melalui celah jendela tetapi tidak menggoda mata untuk cepat terlelap hingga roda waktu terlihat memasuki keheningan tengah malam. Hanya satu yang ada dipikiran, terlalu sombong tidak mengambil kesempatan tes seleksi masuk waktu itu –beberapa bulan yang lalu- toh akhirnya lulus disini juga. Ada tabir sesal penuh harap pada perguruan berselimut warna kuning yang selalu terngiang dalam mimpi, sesal karena terlalu congkak sikap mengabaikan setiap fase hidup yang sudah berusaha dibimbing sang arsitek sekolahan.

Ya…ya…ya… memang sombong seonggok daging ini karena hanya mementingkan kebahagian sesaat yang penuh dengan penyesalan detik ini.

Belum sempat terkirim kabar kelulusan ini pada wanita yang telah membawa tubuh ini ke dunia. Masih banyak pertimbangan dalam diri untuk menolak kebijakan yang sudah ada tapi dengan resiko yang mungkin saat itu tak berani tergenggam karena rasa takut pada kemampuan diri sendiri.

Mentari yang cerah membuat mata silau setelah mengunyah roti plus kacang hijau beraroma asap yang biasa tertelan ketika jadwalnya.
Hahahaaha hanya tawa untuk mengingat setiap makanan yang tersedia saat itu –Hotel Rodeo yang penuh ilmu dan bekal hidup- tidak terlalu kejam istilah itu karena memang seperti terkungkung dalam kotak rutinitas.

Ketika fajar mulai meranjak naik ke langit yang biru, tubuh ini sudah berdiam di ruangan bermesin pendingin dengan tiga arsitek masa depan dalam sekolahan. Ya… Ini lah saatnya penentuan antara Kujang dan Tanah Batak. Doktrin dan dogma terus dilancarkan sang arsitek untuk meracuni keyakinan bocah lugu dengan berbagai janji yang menenangkan.

Tetapi, sekali lagi hanya tawa yang bisa menggambarkan hal tersebut. Otak ini teracuni doktrin bunda arsitek yang tak terbantahkan setiap kalimatnya. Hanya satu yang terpikirkan setelah racun itu meresap dalam patri –melangkah dari tugu Kujang menuju Tanah Batak- mungkin hanya itu yang ada karena selama lima tahun mata ini tertutup dari kontaminasi kekejaman dunia luar dan hanya tanah tiga hektar yang menjadi teritorial hidup di ujung kota Tugu Kujang.

Coretan ini adalah saat dimana kaki telah hampir seribu hari berpetualang dan menghabiskan waktu yang tersedia di Tanah Batak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar